Jumat, 27 November 2009

konSELinG masTitIs

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan kebiasaan hidup karena kehadiran buah hati pun terjadi, prioritas saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh terutama untuk kesehatan dan perkembangan bayi ketika ia tetap diberi ASI sampai setidaknya berusia 4 bulan ( Howie et al. 1990 ).
Masa-masa menyusui tersebut seringkali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila seorang ibu memberikan ASInya dengan cara yang benar. Oleh karena itu, dalam mencegah terjadinya mastitis pada stadium lanjut maka diperlukan adanya konseling.

1.2. Sasaran
Ibu dalam masa nifas
Keluarga
Tenaga Medis
Masyarakat pada umumnya

1.3. Tujuan Konseling
Membantu klien melihat masalah ( Mastitis ) supaya lebih jelas sehingga dapat memilih jalan keluar sendiri
Klien dapat mengetahui apa yang akan dan harus dilakukan dalam menangani Mastitis
Klien dapat merasa lebih baik, tanpa adanya ketegangan dan tekanan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susu pun mengalami sumbatan. Dalam hal ini, mastitis merupakan salah satu jenis peradangan payudara dimana peradangan payudara tersebut suatu hal yang sangat biasa pada wanita yang pernah hamil (mastitis gravidarum) atau dalam masa laktasi (mastitis puerperalis). Apabila tidak dilakukan penanganan secara cepat dan tepat maka keadaan ibu dalam masa nifas tersebut akan semakin memburuk bahkan dapat menyebabkan kematian.
Pada umumnya yang dianggap porte d’entrĂ©e dari kuman penyebab ialah puting susu yang luka atau lecet, dan kuman perkontinuitatum menjalar ke duktulus – duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stafilococus aureus.
Tingkat penyakit ini ada dua, yaitu : tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri, dan biasanya cukup diberi antibiotika. Dalam hal antibiotika dapat dikemukakan bahwa kuman dari abses yang dibiakkan dan diperiksa resistensinya terhadap antibiotika, ternyata banyak yang resistensi terhadap penisilin dan streptomesin.
Knight dan Nolan dari royal infirmary di Edinburgh mengemukakan bahwa stafilococus aureus yang dibiakkan 93 % resisten terhadap penisilin dan 55 % terhadap streptomisin, akan tetapi hampir tidak resisten terhadap linkosin dan oksasilin. Dianjurkan pemakaian linkosin secukupnya selama 7 sampai 10 hari, dan kalau ternyata allergis terhadap[ obat –obat ini, diberi tetrasiklin.
Tingkat mastitis yang diterangkan diatas jarang kita lihat di kamar praktek, hampir selalu orang sakit datang sudah dalam tingkat abses. Dari tingkat radang ke abses berlangsung secara cepat karena oleh radang duktulus – duktulus menjadi edematous, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala abses ini ialah nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses mengkilap dan suhu tinggi sekali (39o – 40 o C). dan bayi dengan sendirinya tidak mau minum pada payudara yang sakit, seolah – olah dia tahu bahwa susu disebelah itu bercampur nanah.

2.2. Indikasi yang Menunjukan Terjadinya Mastitis
o tiba tiba muncul rasa gatal pada puting dan berkembang menjadi adanya rasa nyeri saat bayi menyusui
o Suhu meningkat dengan cepat mencapai 39o – 40 o C
o Denyut nadi meningkat
o Menggigil, malaise, sakit kepala
o Daerah payudara menjadi merah, tegang, nyeri, disertai benjolan yang keras

2.3. Cara Mengurangi Efek Mastitis
Beristirahat dengan benar ( misal : tidur, duduk lama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas )
Mengkonsumsi Echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan system imun dan membantu melawan infeksi
Mengompres daerah yang mengalami sumbatan duktus dengan air hangat sambil dipijat
Mengurangi kelelahan dan stress
Memakai bra yang dapat menyokong payudara
Menggunakan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilamgkan sumbatan
Tetap memberikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama panyudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan kompres dot
Mengurangi asupan cairan
Memberikan antibiotik :
· Diclosaksilin, atau penisilin penisilinase-tahanan yang lain
· Sefalusporin
· Eritromisin, jika alergi terhadap penisilin

2.4. Dialog Role Play
Ilustrasi : seorang ibu A berusia 28 tahun dalam masa nifas, beliau ingin bertemu Bidan Arva untuk menyampaikan masalahnya (Mastitis) dan meminta bantuan pemikiran

A : Assalamu’alaikum, Selamat Siang Bu Bidan ?
B :Wa’alaikumsalam, Selamat Siang, Ooo bu Cinta, pak Rangga. Wah bayinya cepat besar ya?
C : Iya bu
B : Mari silakan masuk. Bu, Pak boleh saya tutup pintunya supaya tidak terganggu ?
C : Silakan Bu.
B : Ada perlu apa ni, Bu?
C : Begini bu Bidan, Istri saya sedang ga’ enak badan.
B : Baiklah bu, jangan sungkan untuk berterus terang, apabila ada keluhan-keluhan, ibu utarakan saja, supaya saya bisa menolong ibu dan silakan bertanya jika kurang jelas. Keluhan ibu akan terjaga kerahasiaannya.
C : Dengan terjaga kerahasiaannya, maksudnya apa Bu?
B : Maksudnya saya tidak cerita pada siapa pun. Sudah menjadi hak ibu dan bapak untuk mendapatkan konseling yang terjaga kerahasiaannya. Baiklah sekarang utarakan keluhan ibu untuk memecahkan masalah yang ibu hadapi dengan metode yang sesuai. Apa yang bisa saya bantu, Bu?
A : Iya ni bu, sepertinya tubuh saya demam, ya….. dingin gitu rasanya, trus puting saya gatal dan nyeri saat menyusui Lola, mmm…kadang-kadang juga sakit kepala, dan ini bu, bagian payudara saya kok merah, bahkan tegang. Ada apa ya Bu?
B : Ooo…kalau begitu coba saya periksa, ibu silakan berbaring dulu ya…….?
A : Iya bu.
Setelah pemeriksaan
C : Bagaimana dengan istri saya Bu Bidan ?
A : Iya Bu Bidan, sebenarnya ada apa dengan payudara saya, Bu? Saya takut terkena kanker payudara, Bu?
B : Begini Bu Cinta, Pak Rangga, sebenarnya hal ini merupakan kejadian alami dan seringkali terjadi pada ibu-ibu yang hamil maupun dalam masa nifas yang sekarang sedang di alami oleh Ibu Cinta.
A : Ooo begitu ya Bu, tapi kok nyeri-nyeri gitu ya, Bu?
B : Nah, payudara ibu kan mengalami peradangan akibat pola menyusui bayi yang kurang benar.
A : Apa salah satunya karena saya sering terburu-buru waktu menyusui Lola ya Bu?
B : Nah itulah yang kemungkinan besar menyebabkan sumbatan di saluran payudara ibu karena ASI tidak dihabiskan dalam sekali menyusui.
C : Wah berarti sangat mempengaruhi sekali ya, Bu?
A : Iya ya Pak?, Bu Bidan, kalau sudah terlanjur seperti ini, bagaimana cara mengurangi nyeri-nyeri payudara yang sangat mengganggu ini?
B : Baiklah bu Cinta, dalam menangani peradangan payudara ada beberapa cara: pertama melakukan istirahat dengan benar, seperti tidur atau duduk lama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas, hal ini untuk mengurangi kelelahan dan stress. Yang kedua mengkonsumsi Echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan system imun dan membantu melawan infeksi. Ketiga, dengan mengompres daerah yang mengalami sumbatan ASI dengan air hangat sambil dipijat. Keempat, dengan Memakai bra yang dapat menyokong payudara. Kelima, dengan memberikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama panyudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan kompres dot. Keenam, Menggunakan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan. Ketujuh, Mengurangi asupan cairan. Dan yang terakhir, untuk mencegah infeksi berkelanjutan dengan pemberian antibiotic. Nah, dari ketujuh cara tersebut, mana yang kira-kira dapat ibu lakukan?
A : Apakah saya harus memilih salah satu Bu Bidan ?
B : Ooo tidak harus, bila ibu memang dapat melakukan semuanya itu akan lebih baik.
A : Baiklah bu, InsyaAllah saya akan melakukan semuanya.
B : Kalau ibu bersedia, untuk antisipasi pertama saya akan memberikan antibiotic.
A : Iya bu saya mau.
B : Nanti obat ini diminum sehari 4 kali sesudah makan. Coba bu bisa diulangi lagi?
A : Jadi sehari saya minum obat ini 4 kali dan setelah makan ya bu?
B : iya benar sekali, bu Cinta. Dan nanti pak Rangga dapat membantu mengingatkan waktunya minum obat ya, Pak?. Baiklah apakah ada pertanyaan lain yang mungkin masih kurang jelas bu Cinta, pak Rangga?
A : Saya rasa tidak bu, sudah sangat jelas informasinya.
C : Iya Bu Bidan, sekarang kami jadi lebih tenang, ya sudah tidak khawatir lagi.
B : Alhamdulillah kalau begitu




BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Mastitis merupakan salah satu tanda bahaya dalam masa nifas. Karena bila tidak segera diatasi hal ini akan berakibat fatal pada ibu yaitu timbulnya kanker payudara akibat mastitis berkelanjutan. Sehingga perlu diadakannya kunjungan ulang (konseling) yang memfokuskan tentang cara mencegah maupun mengatasi mastitis. Selain memberikan dampak negative pada ibu, mastitis ini juga akan mengakibatkan bayi kurang mendapatkan kepuasan asupan ASI karena keadaan mastitis yang sudah terinfeksi akan menyebabkan ASI bercampur nanah.
Konseling Mastitis harus diberikan oleh tenaga medis (Bidan atau Ahli kandungan) yang berkompeten sehingga konseling dapat berjalan dengan baik, dimana sebagi konseli dapat puas dan nyaman setelah melakukan konseling.


3.2. Saran
Untuk menghindari terjadinya mastitis, sebaiknya bidan memberikan penyuluhan atau konseling tentang pemberian ASI yang benar baik selama hamil maupun setelah ibu melahirkan. Namun, bila sudah terlanjur bidan harus lebih cepat dan tepat dalam menangani kasus mastitis (konseling dalam meminimalkan rasa nyeri akibat mastitis).Oleh karena itu, sebelum menjadi konselor sebaiknya bidan harus mendapat pelatihan dan ketrampilan dalam berkomunikasi interpersonal (konseling). Selain itu, sarana prasarana pun harus mendukung demi kelancaran proses konseling.

Tidak ada komentar: