Jumat, 27 November 2009

AwAs HiV/AIdS pAdA BumIL

HIV / AIDS PADA IBU HAMIL


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi Yang Diampu Oleh Ibu Mujahidatul Musfiroh, S.Kep, Ns


























Dikerjakan Oleh :

Aprilica Manggalaning Murti / R 0106015
Arva Rochmawati / R 0106017
Ayu Rasita Mayasari / R 0106018
Azizah Noormala Dewi / R 0106019
Chusnul Khotimah / R 0106020
Desty Nur Isnaeni / R 0106021




PROGRAM DIV KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2007
DAFTAR ISI


Halaman Depan …………………………………………………………………….. 1
Daftar Isi …………………………………………………………………………….2
Bab I Pendahuluan …………………………………………………………………..3
Bab II Pembahasan …………………………………………………………………. 4
Bab III Penutup …………………………………………………………………….. 8
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………....10



















BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Berbagai macam pemberitaan media elektronik maupun non elektronik tentang kekerasan, sebagian besar dialami oleh wanita. Oleh karena itu wanita yang menjadi korban kekerasan memiliki masalah kesehatan fisik dan mental dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang tidak menjadi korban kekerasan.
Bentuk tindak kekerasan ini mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita yaitu berperan dalam meningkatkan resiko IMS ( Infeksi Menular Seksual ) termasuk HIV/ AIDS. Hal ini tidak terlepas dari perilaku seksual para pasangan mereka.
Terlebih jika penyakit HIV/ AIDS ini tertular pada ibu yang sedang hamil, tentunya hal ini akan menambah kewaspadaan pada kesehatan dan keselamatan ibu beserta janinnya. Maka dari itu, kelompok kami mengangkat tema “HIV / AIDS Pada Ibu Hamil”. Dan selanjutnya topik ini akan dikupas lebih dalam pada bab pembahasan.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
Memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi
Memberdayakan ibu hamil dengan pengetahuan dan pemahaman tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi agar dapat bersikap dan berperilaku yang bertanggungjawab untuk meminimalkan resiko HIV / AIDS.
Meningkatkan kesadaran dan penerapan hak-hak seksual dan reproduksi yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari
Memberikan pandangan secara umum, siapa tenaga medis yang mempunyai kewenangan menangani ibu hamil yang mengidap HIV / AIDS





BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian
HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) yaitu sejenis virus yang bertindak dengan melemahkan dan memusnahkan system daya tahan badan manusia. Virus HIV telah dikenal pasti sebagai virus yang menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS itu sendiri merujuk pada kumpulan penyakit-penyakit yang dihidapi oleh orang-orang yang dijangkiti virus HIV, akibat system daya tahan badan mereka yang telah lemah atau musnah. Sehingga para penderita tidak dapat melawan anasir-anasir yang mengganggu system badannya, sekalipun penyakit-penyakit tadi biasanya ringan dan mudah disembuhkan (misal: influenza, dll.)
HIV dapat menular bila memasuki saluran darah seseorang dengan tiga cara utama, yaitu
Melalui hubungan seks dengan seseorang yang terjangkit yakni di mana berlaku pemindahan cairan badan seperti mani, mazi, darah dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain.
Melalui darah yang telah dijangkiti HIV, umpamanya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, pemindahan darah atau organ-organ badan.
Dari ibu yang telah dijangkiti HIV kepada anaknya semasa kehamilan, kelahiran, atau penyusuan.

B. Pemaparan
Menurut data Departemen Kesehatan pada akhir tahun 2006 , diperkirakan di Indonesia sekitar 9000 ibu hamil positif HIV telah melahirkan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi terbesar penderita HIV/ AIDS ditemukan dikalangan ibu. Padahal Ibu yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV kepada janin atau bayi yang dilahirkannnya. Tanpa perawatan antenatal dan postnatal, sekitar 20 % bayi dari ibu yang mengidap HIV akan tertular. Ibu yang memiliki jumlah virus lebih banyak, dapat menularkan kepada bayinya. Meskipun tidak ada batasan aman untuk jumlah virus, infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, tetapi biasanya terjadi sebelum atau selama persalinan. Bayi dapat mudah tertular virus apabila proses persalinan berlangsung lama, karena selama proses tersebut bayi akan terus kontak dengan darah ibunya.
UNAIDS : sekitar 25 juta orang yang hidup dengan HIV/ AIDS di Sub Sahara Afrika meliputi kalangan dewasa dan anak-anak dengan 4 juta kasus baru setiap tahunnya, 300 ribu sampai 600 ribu penderita AIDS pada anak-anak meninggal. Di Uganda, Penularan ibu kepada anaknya (Maternal to Child Transmission) mencapai 15 %, lebih dari 90 % menginfeksi anak-anak sedangkan di Afrika rata-rata penularan ibu terhadap anaknya mencapai 20-40%. Perkiraan resiko penularan HIV / AIDS ibu kepda anaknya (Maternal to Child Transmission) yang terjadi adalah During pregnancy (selama kehamilan) 5-10 %, In Labour (proses persalinan) 15-20%, dan Breast feeding (penyusuan) 10-15%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penularan tersebut sebagai berikut:
Faktor virus itu sendiri ( Viral factors )
Ibu yang mempunyai kandungan CD4 dengan jumlah tertentu ( Maternal : CD4 count )
Infeksi Penyakit Menular Seksual ( STD Infections )
Penyalahgunaan zat / obat-obatan ( Substance abuse )
Kelakuan seksual ( Sexual Behavior )
Gangguan Plasenta ( Placental disruption )
Persalinan belum cukup umur ( Preterm deliveries )
Jangka waktu pecahnya membran ( Duration of membrane rupture )
Prosedur persalinan ( Invasive procedure in labour : Instrumental vaginal deliveries, episiotomies )
Cara persalinan ( Mode of delivery )
Faktor fetal neonatal
Penyusuan
Apabila seorang ibu terlanjur mengidap HIV/ AIDS positif dapat mengurangi resiko penularan pada bayinya, dengan :
Menggunakan obat Antiretroviral (ARV)
· AZT
· Neverapine
Resiko penularan HIV akan turun dari 20% menjadi 8 % bahkan kurang jika digunakan. Rata-rata penularan akan lebih kurang lagi jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT selama 6 bulan terakhir dari kehamilannya, dan bayi yang baru lahir juga menggunakan AZT 6 minggu setelah lahir.
Berusaha untuk memperpendek proses persalinan
Resiko penularan akan besar dengan lamanya waktu proses persalinan. Jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT dan melahirkan bayinya dengan proses sesar (C- Section), dapat mengurangi resiko penularan sebesar 2 %.
Jangan menyusui bayi dengan ASI
Sekitar 14% kemungkinan bayi tertular HIV dari ASI ibu yang HIV positif. Resiko ini dapat dihilangkan jika ibu yang HIV positif tidak memberikan ASI kepada bayinya namun memberikan susu formula.
Bila bayi tersebut tidak tertular oleh ibunya, usahakan bayi diisolir dari ibunya (dr. Teguh Prakoso, SpOG) sehingga perawatan bayi dipercayakan kepada saudara atau orang lain yang tidak mengidap HIV/ AIDS
Di negara berkembang dan miskin, banyak masalah timbul terhadap penggunaan susu formula, selain mahal, penyajian susu yang menggunakan air yang tidak bersih sering terjadi.  Menurut World Health Organization (WHO) risiko penularan HIV bahkan lebih sedikit ketimbang risiko kesehatan terhadap penggunaan air yang tidak bersih.Di negara Afrika, yang sebagian besar berpenduduk miskin, dianjurkan tetap menyusui bayinya walaupun ibu tersebut mengidap HIV, hal ini dikarenakan ketidak mampuan membeli susu formula yang mahal.
Sebagian besar bayi yang baru lahir dari ibu yang HIV positif akan menunjukan positif pada hasil test HIV. Hasil tes positif berarti orang tersebut memiliki HIV antibody dalam tubuhnya. Bayi mendapat HIV antibody dari ibu yang HIV positif walaupun mereka tidak tertular HIV.
Jika bayi tertular HIV, maka sistem kekebalan tubuhnya akan mulai membentuk antibody. Jika bayi tidak tertular, maka antibody ibunya akan secara gradual akan menghilang dan bayi akan memberikan hasil negatif pada test HIV setelah 6 sampai 12 bulan.
“HIV tidak akan menyebabkan kematian bagi pengidapnya”(dr. Teguh Prakoso, SpOG). Hanya saja bila tidak ditangani ataupun dicegah secara dini, hal ini akan memperburuk keadaan pengidapnya karena lama-kelamaan system daya tahan tubuh nol sehingga bila ada penyakit yang tergolong ringan pun dapat menyebabkan kematian.
Banyak penelitian menunjukan bahwa ibu hamil yang HIV positif tidak mengalami masalah kesehatan yang melebihi ibu yang tidak hamil. Karena itu, kehamilan tidak menunjukan bahaya bagi kesehatan bagi ibu yang HIV positif.
Pada kasus ibu hamil pengidap HIV/ AIDS tentunya mendapat perhatian dan perawatan khusus dari tenaga medis yang ahli dibidangnya seperti dokter spesialis kandungan yang bekerjasama dengan dokter yang ahli dibidang penyakit HIV / AIDS. Oleh karena itu seorang bidan maupun tenaga medis lainnya tidak mendapat kewenangan untuk menanganinya, hal ini untuk menghindari kekhawatiran terjadinya penularan terhadap tenaga medis, karena untuk membantu dalam persalinan pegidap HIV / AIDS harus dilakukan proses sesar dan dengan pakaian dan peralatan khusus.





























BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
Dari pengertian dan pemaparan tentang HIV/ AIDS pada Ibu hamil, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perlu adanya kesadaran akan HIV / AIDS dalam masyarakat walaupun HIV/ AIDS itu sendiri tidak akan membunuh pengidapnya (tidak menimbulkan kematian) namun hanya merusak system kekebalan tubuh badan dan hal inilah yang menjadikan tubuh rentan terhadap penyakit meskipun penyakit yang tergolong ringan
Penularan HIV tidak seperti virus selsema yang menular melalui udara. Jadi, tidak perlu khawatir akan tertular virus HIV melalui pergaulan biasa dengan pengidap HIV misal dengan berjabat tangan, bertukar makanan, atau menggunakan peralatan makan yang sama. HIV juga tidak menular melalui air, bercakap-cakap melalui telepon atau memegang tombol pintu maupun terkena gigitan nyamuk. Virus HIV hanya hidup dalam tubuh manusia.
Kehamilan tidak akan membuat kesehatan ibu yang HIV positif menjadi lebih buruk. Bagaimanapun, beberapa obat yang digunakan untuk mengurangi penularan HIV atau infeksi lainnya yang disebabkan oleh persalinan, terutama selama 3 bulan pertama kehamilan. jika ibu HIV positif memilih tidak peduli dengan pengobatan selama kehamilan, penyakit yang disebabkan HIV akan bertambah buruk.
Oleh karena itu, penanganan HIV/ AIDS pada Ibu hamil harus dilakukan secara intensif oleh dokter-dokter ahli dengan alat-alat yang memadai (Baju khusus, kaca mata, handscone, masker, dll.). Apabila prosedur pencegahan penularan bayi dari ibunya (Maternal to Child Transmission) berhasil maka prosentase resiko penularannya dapat ditekan sampai 50 %. Tentunya proses tersebut harus diawali sejak ibu hamil (antenatal care), persalinan (intra partum), sampai setelah persalinan atau nifas (postnatal care). Apalagi konsultasi yang mendukung keadaan pasien juga sangat dibutuhkan begitu pula tentang pendidikan kesehatan dapat memberikan informasi yang lebih spesifik sehingga keadaan yang tidak diinginkan dapat dihindari.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas dan dari berbagai referensi serta informasi narasumber yang kami dapat, menyarankan sebagai berikut :
Perlu adanya pemeriksaan darah secara intensif bagi calon pengantin maupun calon orang tua.
Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan secara seksual dari HIV dengan meningkatkan pencegahan dan perawatan dari penyakit yang menular melalui hubungan seksual
Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan HIV melalui darah dengan mencegah HIV diantara para pengguna jarum suntik narkoba dan menjamin praktik penyuntikan yang aman di lingkungan pelayanan kesehatan (termasuk perlindungan bagi tenaga kesehatan)
Menyediakan dukungan teknis untuk memperkuat perawatan dan bantuan yang lengkap termasuk VCT, perawatan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan HIV / AIDS, dan memperbaiki akses terhadap ART.
Perempuan yang HIV positif yang akan hamil atau ingin hamil harus memperhatikan juga mendiskusikan pilihannya dengan dokter untuk ditangani dan mengurangi risiko infeksi HIV atau efek kehamilan tersebut terhadap bayi anda.
Ibu hamil yang HIV positif harus memikirkan tentang kesehatannya dan kesehatan calon bayinya (Jangan memberi ASI pada bayinya)
Memberikan dukungan moril dan spirituil bagi ibu hamil pengidap HIV/ AIDS











DAFTAR PUSTAKA



Alarm, Routine Infection Prevention (HIV AND PREGNANCY)
Barry, Schoub, 1994. AIDS And HIV In Prespective. New York: Cambridge University Press
Google. Ibu Hamil Dan HIV
http://www.kompas.co.id
kalyanamedia.com, Edisi I No. 3, Oktober 2004
kalyanamedia.com, Edisi I No. 4, Desember 2004
mukhotibmd.easyjournal.com, 3 Februari 2005. Situs Penguatan Hak-hak Perempuan
Narasumber : dr. Teguh Prakoso, SpOG. 20 Maret 2007. HIV / AIDS Pada Ibu Hamil
waspada.co.id. 11 Maret 2007. Minim, Korban KDRT Yang Berani Melaporkan Nasibnya
who@who.or.id. Kesehatan Keluarga Dan Masyarakat

Tidak ada komentar: