Jumat, 27 November 2009

AwAs HiV/AIdS pAdA BumIL

HIV / AIDS PADA IBU HAMIL


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi Yang Diampu Oleh Ibu Mujahidatul Musfiroh, S.Kep, Ns


























Dikerjakan Oleh :

Aprilica Manggalaning Murti / R 0106015
Arva Rochmawati / R 0106017
Ayu Rasita Mayasari / R 0106018
Azizah Noormala Dewi / R 0106019
Chusnul Khotimah / R 0106020
Desty Nur Isnaeni / R 0106021




PROGRAM DIV KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2007
DAFTAR ISI


Halaman Depan …………………………………………………………………….. 1
Daftar Isi …………………………………………………………………………….2
Bab I Pendahuluan …………………………………………………………………..3
Bab II Pembahasan …………………………………………………………………. 4
Bab III Penutup …………………………………………………………………….. 8
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………....10



















BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Berbagai macam pemberitaan media elektronik maupun non elektronik tentang kekerasan, sebagian besar dialami oleh wanita. Oleh karena itu wanita yang menjadi korban kekerasan memiliki masalah kesehatan fisik dan mental dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang tidak menjadi korban kekerasan.
Bentuk tindak kekerasan ini mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita yaitu berperan dalam meningkatkan resiko IMS ( Infeksi Menular Seksual ) termasuk HIV/ AIDS. Hal ini tidak terlepas dari perilaku seksual para pasangan mereka.
Terlebih jika penyakit HIV/ AIDS ini tertular pada ibu yang sedang hamil, tentunya hal ini akan menambah kewaspadaan pada kesehatan dan keselamatan ibu beserta janinnya. Maka dari itu, kelompok kami mengangkat tema “HIV / AIDS Pada Ibu Hamil”. Dan selanjutnya topik ini akan dikupas lebih dalam pada bab pembahasan.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
Memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi
Memberdayakan ibu hamil dengan pengetahuan dan pemahaman tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi agar dapat bersikap dan berperilaku yang bertanggungjawab untuk meminimalkan resiko HIV / AIDS.
Meningkatkan kesadaran dan penerapan hak-hak seksual dan reproduksi yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari
Memberikan pandangan secara umum, siapa tenaga medis yang mempunyai kewenangan menangani ibu hamil yang mengidap HIV / AIDS





BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian
HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) yaitu sejenis virus yang bertindak dengan melemahkan dan memusnahkan system daya tahan badan manusia. Virus HIV telah dikenal pasti sebagai virus yang menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS itu sendiri merujuk pada kumpulan penyakit-penyakit yang dihidapi oleh orang-orang yang dijangkiti virus HIV, akibat system daya tahan badan mereka yang telah lemah atau musnah. Sehingga para penderita tidak dapat melawan anasir-anasir yang mengganggu system badannya, sekalipun penyakit-penyakit tadi biasanya ringan dan mudah disembuhkan (misal: influenza, dll.)
HIV dapat menular bila memasuki saluran darah seseorang dengan tiga cara utama, yaitu
Melalui hubungan seks dengan seseorang yang terjangkit yakni di mana berlaku pemindahan cairan badan seperti mani, mazi, darah dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain.
Melalui darah yang telah dijangkiti HIV, umpamanya menggunakan jarum suntik yang tidak steril, pemindahan darah atau organ-organ badan.
Dari ibu yang telah dijangkiti HIV kepada anaknya semasa kehamilan, kelahiran, atau penyusuan.

B. Pemaparan
Menurut data Departemen Kesehatan pada akhir tahun 2006 , diperkirakan di Indonesia sekitar 9000 ibu hamil positif HIV telah melahirkan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi terbesar penderita HIV/ AIDS ditemukan dikalangan ibu. Padahal Ibu yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV kepada janin atau bayi yang dilahirkannnya. Tanpa perawatan antenatal dan postnatal, sekitar 20 % bayi dari ibu yang mengidap HIV akan tertular. Ibu yang memiliki jumlah virus lebih banyak, dapat menularkan kepada bayinya. Meskipun tidak ada batasan aman untuk jumlah virus, infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, tetapi biasanya terjadi sebelum atau selama persalinan. Bayi dapat mudah tertular virus apabila proses persalinan berlangsung lama, karena selama proses tersebut bayi akan terus kontak dengan darah ibunya.
UNAIDS : sekitar 25 juta orang yang hidup dengan HIV/ AIDS di Sub Sahara Afrika meliputi kalangan dewasa dan anak-anak dengan 4 juta kasus baru setiap tahunnya, 300 ribu sampai 600 ribu penderita AIDS pada anak-anak meninggal. Di Uganda, Penularan ibu kepada anaknya (Maternal to Child Transmission) mencapai 15 %, lebih dari 90 % menginfeksi anak-anak sedangkan di Afrika rata-rata penularan ibu terhadap anaknya mencapai 20-40%. Perkiraan resiko penularan HIV / AIDS ibu kepda anaknya (Maternal to Child Transmission) yang terjadi adalah During pregnancy (selama kehamilan) 5-10 %, In Labour (proses persalinan) 15-20%, dan Breast feeding (penyusuan) 10-15%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penularan tersebut sebagai berikut:
Faktor virus itu sendiri ( Viral factors )
Ibu yang mempunyai kandungan CD4 dengan jumlah tertentu ( Maternal : CD4 count )
Infeksi Penyakit Menular Seksual ( STD Infections )
Penyalahgunaan zat / obat-obatan ( Substance abuse )
Kelakuan seksual ( Sexual Behavior )
Gangguan Plasenta ( Placental disruption )
Persalinan belum cukup umur ( Preterm deliveries )
Jangka waktu pecahnya membran ( Duration of membrane rupture )
Prosedur persalinan ( Invasive procedure in labour : Instrumental vaginal deliveries, episiotomies )
Cara persalinan ( Mode of delivery )
Faktor fetal neonatal
Penyusuan
Apabila seorang ibu terlanjur mengidap HIV/ AIDS positif dapat mengurangi resiko penularan pada bayinya, dengan :
Menggunakan obat Antiretroviral (ARV)
· AZT
· Neverapine
Resiko penularan HIV akan turun dari 20% menjadi 8 % bahkan kurang jika digunakan. Rata-rata penularan akan lebih kurang lagi jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT selama 6 bulan terakhir dari kehamilannya, dan bayi yang baru lahir juga menggunakan AZT 6 minggu setelah lahir.
Berusaha untuk memperpendek proses persalinan
Resiko penularan akan besar dengan lamanya waktu proses persalinan. Jika ibu yang HIV positif menggunakan AZT dan melahirkan bayinya dengan proses sesar (C- Section), dapat mengurangi resiko penularan sebesar 2 %.
Jangan menyusui bayi dengan ASI
Sekitar 14% kemungkinan bayi tertular HIV dari ASI ibu yang HIV positif. Resiko ini dapat dihilangkan jika ibu yang HIV positif tidak memberikan ASI kepada bayinya namun memberikan susu formula.
Bila bayi tersebut tidak tertular oleh ibunya, usahakan bayi diisolir dari ibunya (dr. Teguh Prakoso, SpOG) sehingga perawatan bayi dipercayakan kepada saudara atau orang lain yang tidak mengidap HIV/ AIDS
Di negara berkembang dan miskin, banyak masalah timbul terhadap penggunaan susu formula, selain mahal, penyajian susu yang menggunakan air yang tidak bersih sering terjadi.  Menurut World Health Organization (WHO) risiko penularan HIV bahkan lebih sedikit ketimbang risiko kesehatan terhadap penggunaan air yang tidak bersih.Di negara Afrika, yang sebagian besar berpenduduk miskin, dianjurkan tetap menyusui bayinya walaupun ibu tersebut mengidap HIV, hal ini dikarenakan ketidak mampuan membeli susu formula yang mahal.
Sebagian besar bayi yang baru lahir dari ibu yang HIV positif akan menunjukan positif pada hasil test HIV. Hasil tes positif berarti orang tersebut memiliki HIV antibody dalam tubuhnya. Bayi mendapat HIV antibody dari ibu yang HIV positif walaupun mereka tidak tertular HIV.
Jika bayi tertular HIV, maka sistem kekebalan tubuhnya akan mulai membentuk antibody. Jika bayi tidak tertular, maka antibody ibunya akan secara gradual akan menghilang dan bayi akan memberikan hasil negatif pada test HIV setelah 6 sampai 12 bulan.
“HIV tidak akan menyebabkan kematian bagi pengidapnya”(dr. Teguh Prakoso, SpOG). Hanya saja bila tidak ditangani ataupun dicegah secara dini, hal ini akan memperburuk keadaan pengidapnya karena lama-kelamaan system daya tahan tubuh nol sehingga bila ada penyakit yang tergolong ringan pun dapat menyebabkan kematian.
Banyak penelitian menunjukan bahwa ibu hamil yang HIV positif tidak mengalami masalah kesehatan yang melebihi ibu yang tidak hamil. Karena itu, kehamilan tidak menunjukan bahaya bagi kesehatan bagi ibu yang HIV positif.
Pada kasus ibu hamil pengidap HIV/ AIDS tentunya mendapat perhatian dan perawatan khusus dari tenaga medis yang ahli dibidangnya seperti dokter spesialis kandungan yang bekerjasama dengan dokter yang ahli dibidang penyakit HIV / AIDS. Oleh karena itu seorang bidan maupun tenaga medis lainnya tidak mendapat kewenangan untuk menanganinya, hal ini untuk menghindari kekhawatiran terjadinya penularan terhadap tenaga medis, karena untuk membantu dalam persalinan pegidap HIV / AIDS harus dilakukan proses sesar dan dengan pakaian dan peralatan khusus.





























BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
Dari pengertian dan pemaparan tentang HIV/ AIDS pada Ibu hamil, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perlu adanya kesadaran akan HIV / AIDS dalam masyarakat walaupun HIV/ AIDS itu sendiri tidak akan membunuh pengidapnya (tidak menimbulkan kematian) namun hanya merusak system kekebalan tubuh badan dan hal inilah yang menjadikan tubuh rentan terhadap penyakit meskipun penyakit yang tergolong ringan
Penularan HIV tidak seperti virus selsema yang menular melalui udara. Jadi, tidak perlu khawatir akan tertular virus HIV melalui pergaulan biasa dengan pengidap HIV misal dengan berjabat tangan, bertukar makanan, atau menggunakan peralatan makan yang sama. HIV juga tidak menular melalui air, bercakap-cakap melalui telepon atau memegang tombol pintu maupun terkena gigitan nyamuk. Virus HIV hanya hidup dalam tubuh manusia.
Kehamilan tidak akan membuat kesehatan ibu yang HIV positif menjadi lebih buruk. Bagaimanapun, beberapa obat yang digunakan untuk mengurangi penularan HIV atau infeksi lainnya yang disebabkan oleh persalinan, terutama selama 3 bulan pertama kehamilan. jika ibu HIV positif memilih tidak peduli dengan pengobatan selama kehamilan, penyakit yang disebabkan HIV akan bertambah buruk.
Oleh karena itu, penanganan HIV/ AIDS pada Ibu hamil harus dilakukan secara intensif oleh dokter-dokter ahli dengan alat-alat yang memadai (Baju khusus, kaca mata, handscone, masker, dll.). Apabila prosedur pencegahan penularan bayi dari ibunya (Maternal to Child Transmission) berhasil maka prosentase resiko penularannya dapat ditekan sampai 50 %. Tentunya proses tersebut harus diawali sejak ibu hamil (antenatal care), persalinan (intra partum), sampai setelah persalinan atau nifas (postnatal care). Apalagi konsultasi yang mendukung keadaan pasien juga sangat dibutuhkan begitu pula tentang pendidikan kesehatan dapat memberikan informasi yang lebih spesifik sehingga keadaan yang tidak diinginkan dapat dihindari.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas dan dari berbagai referensi serta informasi narasumber yang kami dapat, menyarankan sebagai berikut :
Perlu adanya pemeriksaan darah secara intensif bagi calon pengantin maupun calon orang tua.
Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan secara seksual dari HIV dengan meningkatkan pencegahan dan perawatan dari penyakit yang menular melalui hubungan seksual
Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan HIV melalui darah dengan mencegah HIV diantara para pengguna jarum suntik narkoba dan menjamin praktik penyuntikan yang aman di lingkungan pelayanan kesehatan (termasuk perlindungan bagi tenaga kesehatan)
Menyediakan dukungan teknis untuk memperkuat perawatan dan bantuan yang lengkap termasuk VCT, perawatan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan HIV / AIDS, dan memperbaiki akses terhadap ART.
Perempuan yang HIV positif yang akan hamil atau ingin hamil harus memperhatikan juga mendiskusikan pilihannya dengan dokter untuk ditangani dan mengurangi risiko infeksi HIV atau efek kehamilan tersebut terhadap bayi anda.
Ibu hamil yang HIV positif harus memikirkan tentang kesehatannya dan kesehatan calon bayinya (Jangan memberi ASI pada bayinya)
Memberikan dukungan moril dan spirituil bagi ibu hamil pengidap HIV/ AIDS











DAFTAR PUSTAKA



Alarm, Routine Infection Prevention (HIV AND PREGNANCY)
Barry, Schoub, 1994. AIDS And HIV In Prespective. New York: Cambridge University Press
Google. Ibu Hamil Dan HIV
http://www.kompas.co.id
kalyanamedia.com, Edisi I No. 3, Oktober 2004
kalyanamedia.com, Edisi I No. 4, Desember 2004
mukhotibmd.easyjournal.com, 3 Februari 2005. Situs Penguatan Hak-hak Perempuan
Narasumber : dr. Teguh Prakoso, SpOG. 20 Maret 2007. HIV / AIDS Pada Ibu Hamil
waspada.co.id. 11 Maret 2007. Minim, Korban KDRT Yang Berani Melaporkan Nasibnya
who@who.or.id. Kesehatan Keluarga Dan Masyarakat

konSELinG masTitIs

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan kebiasaan hidup karena kehadiran buah hati pun terjadi, prioritas saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh terutama untuk kesehatan dan perkembangan bayi ketika ia tetap diberi ASI sampai setidaknya berusia 4 bulan ( Howie et al. 1990 ).
Masa-masa menyusui tersebut seringkali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila seorang ibu memberikan ASInya dengan cara yang benar. Oleh karena itu, dalam mencegah terjadinya mastitis pada stadium lanjut maka diperlukan adanya konseling.

1.2. Sasaran
Ibu dalam masa nifas
Keluarga
Tenaga Medis
Masyarakat pada umumnya

1.3. Tujuan Konseling
Membantu klien melihat masalah ( Mastitis ) supaya lebih jelas sehingga dapat memilih jalan keluar sendiri
Klien dapat mengetahui apa yang akan dan harus dilakukan dalam menangani Mastitis
Klien dapat merasa lebih baik, tanpa adanya ketegangan dan tekanan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susu pun mengalami sumbatan. Dalam hal ini, mastitis merupakan salah satu jenis peradangan payudara dimana peradangan payudara tersebut suatu hal yang sangat biasa pada wanita yang pernah hamil (mastitis gravidarum) atau dalam masa laktasi (mastitis puerperalis). Apabila tidak dilakukan penanganan secara cepat dan tepat maka keadaan ibu dalam masa nifas tersebut akan semakin memburuk bahkan dapat menyebabkan kematian.
Pada umumnya yang dianggap porte d’entrĂ©e dari kuman penyebab ialah puting susu yang luka atau lecet, dan kuman perkontinuitatum menjalar ke duktulus – duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stafilococus aureus.
Tingkat penyakit ini ada dua, yaitu : tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri, dan biasanya cukup diberi antibiotika. Dalam hal antibiotika dapat dikemukakan bahwa kuman dari abses yang dibiakkan dan diperiksa resistensinya terhadap antibiotika, ternyata banyak yang resistensi terhadap penisilin dan streptomesin.
Knight dan Nolan dari royal infirmary di Edinburgh mengemukakan bahwa stafilococus aureus yang dibiakkan 93 % resisten terhadap penisilin dan 55 % terhadap streptomisin, akan tetapi hampir tidak resisten terhadap linkosin dan oksasilin. Dianjurkan pemakaian linkosin secukupnya selama 7 sampai 10 hari, dan kalau ternyata allergis terhadap[ obat –obat ini, diberi tetrasiklin.
Tingkat mastitis yang diterangkan diatas jarang kita lihat di kamar praktek, hampir selalu orang sakit datang sudah dalam tingkat abses. Dari tingkat radang ke abses berlangsung secara cepat karena oleh radang duktulus – duktulus menjadi edematous, air susu terbendung dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala abses ini ialah nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses mengkilap dan suhu tinggi sekali (39o – 40 o C). dan bayi dengan sendirinya tidak mau minum pada payudara yang sakit, seolah – olah dia tahu bahwa susu disebelah itu bercampur nanah.

2.2. Indikasi yang Menunjukan Terjadinya Mastitis
o tiba tiba muncul rasa gatal pada puting dan berkembang menjadi adanya rasa nyeri saat bayi menyusui
o Suhu meningkat dengan cepat mencapai 39o – 40 o C
o Denyut nadi meningkat
o Menggigil, malaise, sakit kepala
o Daerah payudara menjadi merah, tegang, nyeri, disertai benjolan yang keras

2.3. Cara Mengurangi Efek Mastitis
Beristirahat dengan benar ( misal : tidur, duduk lama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas )
Mengkonsumsi Echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan system imun dan membantu melawan infeksi
Mengompres daerah yang mengalami sumbatan duktus dengan air hangat sambil dipijat
Mengurangi kelelahan dan stress
Memakai bra yang dapat menyokong payudara
Menggunakan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilamgkan sumbatan
Tetap memberikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama panyudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan kompres dot
Mengurangi asupan cairan
Memberikan antibiotik :
· Diclosaksilin, atau penisilin penisilinase-tahanan yang lain
· Sefalusporin
· Eritromisin, jika alergi terhadap penisilin

2.4. Dialog Role Play
Ilustrasi : seorang ibu A berusia 28 tahun dalam masa nifas, beliau ingin bertemu Bidan Arva untuk menyampaikan masalahnya (Mastitis) dan meminta bantuan pemikiran

A : Assalamu’alaikum, Selamat Siang Bu Bidan ?
B :Wa’alaikumsalam, Selamat Siang, Ooo bu Cinta, pak Rangga. Wah bayinya cepat besar ya?
C : Iya bu
B : Mari silakan masuk. Bu, Pak boleh saya tutup pintunya supaya tidak terganggu ?
C : Silakan Bu.
B : Ada perlu apa ni, Bu?
C : Begini bu Bidan, Istri saya sedang ga’ enak badan.
B : Baiklah bu, jangan sungkan untuk berterus terang, apabila ada keluhan-keluhan, ibu utarakan saja, supaya saya bisa menolong ibu dan silakan bertanya jika kurang jelas. Keluhan ibu akan terjaga kerahasiaannya.
C : Dengan terjaga kerahasiaannya, maksudnya apa Bu?
B : Maksudnya saya tidak cerita pada siapa pun. Sudah menjadi hak ibu dan bapak untuk mendapatkan konseling yang terjaga kerahasiaannya. Baiklah sekarang utarakan keluhan ibu untuk memecahkan masalah yang ibu hadapi dengan metode yang sesuai. Apa yang bisa saya bantu, Bu?
A : Iya ni bu, sepertinya tubuh saya demam, ya….. dingin gitu rasanya, trus puting saya gatal dan nyeri saat menyusui Lola, mmm…kadang-kadang juga sakit kepala, dan ini bu, bagian payudara saya kok merah, bahkan tegang. Ada apa ya Bu?
B : Ooo…kalau begitu coba saya periksa, ibu silakan berbaring dulu ya…….?
A : Iya bu.
Setelah pemeriksaan
C : Bagaimana dengan istri saya Bu Bidan ?
A : Iya Bu Bidan, sebenarnya ada apa dengan payudara saya, Bu? Saya takut terkena kanker payudara, Bu?
B : Begini Bu Cinta, Pak Rangga, sebenarnya hal ini merupakan kejadian alami dan seringkali terjadi pada ibu-ibu yang hamil maupun dalam masa nifas yang sekarang sedang di alami oleh Ibu Cinta.
A : Ooo begitu ya Bu, tapi kok nyeri-nyeri gitu ya, Bu?
B : Nah, payudara ibu kan mengalami peradangan akibat pola menyusui bayi yang kurang benar.
A : Apa salah satunya karena saya sering terburu-buru waktu menyusui Lola ya Bu?
B : Nah itulah yang kemungkinan besar menyebabkan sumbatan di saluran payudara ibu karena ASI tidak dihabiskan dalam sekali menyusui.
C : Wah berarti sangat mempengaruhi sekali ya, Bu?
A : Iya ya Pak?, Bu Bidan, kalau sudah terlanjur seperti ini, bagaimana cara mengurangi nyeri-nyeri payudara yang sangat mengganggu ini?
B : Baiklah bu Cinta, dalam menangani peradangan payudara ada beberapa cara: pertama melakukan istirahat dengan benar, seperti tidur atau duduk lama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas, hal ini untuk mengurangi kelelahan dan stress. Yang kedua mengkonsumsi Echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan system imun dan membantu melawan infeksi. Ketiga, dengan mengompres daerah yang mengalami sumbatan ASI dengan air hangat sambil dipijat. Keempat, dengan Memakai bra yang dapat menyokong payudara. Kelima, dengan memberikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama panyudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan kompres dot. Keenam, Menggunakan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan. Ketujuh, Mengurangi asupan cairan. Dan yang terakhir, untuk mencegah infeksi berkelanjutan dengan pemberian antibiotic. Nah, dari ketujuh cara tersebut, mana yang kira-kira dapat ibu lakukan?
A : Apakah saya harus memilih salah satu Bu Bidan ?
B : Ooo tidak harus, bila ibu memang dapat melakukan semuanya itu akan lebih baik.
A : Baiklah bu, InsyaAllah saya akan melakukan semuanya.
B : Kalau ibu bersedia, untuk antisipasi pertama saya akan memberikan antibiotic.
A : Iya bu saya mau.
B : Nanti obat ini diminum sehari 4 kali sesudah makan. Coba bu bisa diulangi lagi?
A : Jadi sehari saya minum obat ini 4 kali dan setelah makan ya bu?
B : iya benar sekali, bu Cinta. Dan nanti pak Rangga dapat membantu mengingatkan waktunya minum obat ya, Pak?. Baiklah apakah ada pertanyaan lain yang mungkin masih kurang jelas bu Cinta, pak Rangga?
A : Saya rasa tidak bu, sudah sangat jelas informasinya.
C : Iya Bu Bidan, sekarang kami jadi lebih tenang, ya sudah tidak khawatir lagi.
B : Alhamdulillah kalau begitu




BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Mastitis merupakan salah satu tanda bahaya dalam masa nifas. Karena bila tidak segera diatasi hal ini akan berakibat fatal pada ibu yaitu timbulnya kanker payudara akibat mastitis berkelanjutan. Sehingga perlu diadakannya kunjungan ulang (konseling) yang memfokuskan tentang cara mencegah maupun mengatasi mastitis. Selain memberikan dampak negative pada ibu, mastitis ini juga akan mengakibatkan bayi kurang mendapatkan kepuasan asupan ASI karena keadaan mastitis yang sudah terinfeksi akan menyebabkan ASI bercampur nanah.
Konseling Mastitis harus diberikan oleh tenaga medis (Bidan atau Ahli kandungan) yang berkompeten sehingga konseling dapat berjalan dengan baik, dimana sebagi konseli dapat puas dan nyaman setelah melakukan konseling.


3.2. Saran
Untuk menghindari terjadinya mastitis, sebaiknya bidan memberikan penyuluhan atau konseling tentang pemberian ASI yang benar baik selama hamil maupun setelah ibu melahirkan. Namun, bila sudah terlanjur bidan harus lebih cepat dan tepat dalam menangani kasus mastitis (konseling dalam meminimalkan rasa nyeri akibat mastitis).Oleh karena itu, sebelum menjadi konselor sebaiknya bidan harus mendapat pelatihan dan ketrampilan dalam berkomunikasi interpersonal (konseling). Selain itu, sarana prasarana pun harus mendukung demi kelancaran proses konseling.